TUMBAL PESUGIHAN
AGEN BOLA PIALA EROPA 2016
Sudah sepuluh tahun aku tinggal di Dusun Tempedak, Desa Tajmahal,
Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Rumahku berjarak
177 kilometer dari kota Pontianak, sekitar lima jam dari pusat kota.
Aku pindah ke daerah terpencil ini karena aku sudah bosan tinggal di
Jakarta. Lepas dari pekerjaanku sebagai staf khusus istana presiden, aku
memilih bertani bersama suamiku, Amran Husni, 58 tahun, di kampung
ini, di mana suamiku itu adalah penduduk asli Dusun Tempedak.
Kami
membeli 100 hektar tanah dan kami bangun perkebunan jeruk siam. Jeruk
itu tumbuh subur dan kami sudah mengekspor buah-buahan manis ini ke
Kuching, Malaysia dan Bandar Sribegawan, Brunai darussallam. Dari
penghasilan ku berkebun jeruk, pemasukan keuanganku jauh melebihi saat
aku bekerja di istana negara.
AGEN BOLA PIALA EROPA 2016
Walau keadaan ekonomi kami lebih dari
yang lain, namun kami tetap bergaul dengan semua warga miskin daerah
ini. Bahkan setiap kali panen, sebagian dari hasil perkebunan kami, kami
sumbangkan untuk warga yang menderita kekurangan di daerah ini.
Utamanya untuk anak yatim piatu dan orang-orang jompo.
Kedekatan
kami kepada warga, membuat kami hidup nyaman dan damai di Desa Tajmahal.
Warga yang kami bantu, berbalik membantu kami bila kami sedang
mempunyai hajat. Saat aku menikahkan anakku, Lita, semua warga turun
tangan tanpa pamrih dan pesta anak kami berjalan lancar.
Kini,
sejak minggu lalu, awal Februari 2003 kami dikejutkan oleh enam warga
yang meninggal mendadak, semua warga ketakutan dan mengungsi ke
kecamatan sebelah, kecamatan Kuala Behe. Aku, suami dan enam anakku
tetap tinggal di tempat. Kami berdiam diri di dalam rumah, mengunci
semua pintu dan menggembok pagar depan. Dusun menjadi sepi sunyi karena
ditinggal oleh semua warga.
AGEN BOLA PIALA EROPA 2016
Warga tercekam oleh penampakan makhluk
halus yang maujud belakangan. Mahluk bebentuk raksasa hitam yang maujud
tengah malam yang diyakini sebagaian warga bahwa sosok itulah pembunuh
misterius yang membantai beberapa orang warga kami.
Karena desa
menjadi sepi, kami pun yang tadinya tidak yakut, menjadi tercekam hebat.
Kami menghitung-hitung untuk mengungsi, tapi ayam dan bebek piaraan
kami, akan musnah kelaparan apabila kami meninggalkan rumah. Kandang
hewan di belakang rumah kami itu, bisa-bisa pula diserbu maling yang
belakangan ini banyak berkeliaran di daerah kami.
Karena kasihan
dengan piaraan, maka aku dan suamiku, memutuskan untuk tetap tinggal di
dalam rumah. Begitu juga dengan anak-anakku, semuanya aku perintahkan
tetap di dalam rumah sampai keadaan menjadi aman.
AGEN BOLA PIALA EROPA 2016
Keamanan segera
tercipta setelah polisi turun ke desa kami. Banyak aparat pengayom
masyarakat ini yang beroperasi untuk membuat ketentraman warga. Sebagai
pengungsi pulang kembali ke Sebadak dan kami pun mulai berani keluar
stelah tiga hari mengurung diri dalam rumah.
Tengah malam, Senin,
13 Agustus 2003 lalu, kami kedatangan tamu. Seseorang memencet bel rumah
kami pada pukul 24.00 Waktu Indonesia Tengah (WIT). Suami dan
anak-anakku tertidur lelap dan aku terbangun karena bunyi bel itu.
Pada saat aku mengengok ke arah pagar rumah, aku tidak melihat
siapa-siapa di sana. Sementara bel terus bordering, pertanda di pemencet
bel itu minta dibukakan pintu pagar. “Mungkin yang memencet anak kecil,
tubuhnya pendek, hingga tidak terlihat oleh ku dari kejauhan. Sebab
pagar tanah kami dari besi las itu, ditutupi lapis fibre glass, sehingga
orang yang bertubuh pendek tidak akan terlihat dari atas.
Dengan
pertimbangan itu, aku segera keluar rumah menuju pintu pagar. Dengan
memakai celana training dan kaos oblong, aku berusaha membukakan pintu.
Selama ini, emang ada anak tetangga. Riza, 11 tahun, suka main ke rumah
dan sering datang malam hari. Riza aku anggap seperti anakku sendiri dan
ia berteman akrab dengan Deni, anak bungsuku. Karena aku merasa bahwa
Riza yang memencet bel, maka aku berani mmbukakan pintu itu.
Begitu
gembok pintu pagar aku buka, aku tidak melihat siapa-siapa memencet
bel. Sementara itu, bel terus berbunyi seakan ada orang yang sedang
memijit tanda minta dibukakan pintu itu.
Jantungku berdebar-debar
saat aku tidak menemukan siapa-siapa di depan pagarku. Aku lalu segera
masuk dan memutuskan konekting bel ke dalam rumah. Tapi sayang, walau
konekting diputus, namun bel masih tetap berbunyi.
BANDAR BOLA PIALA EROPA 2016
Anak kedua ku,
Erni, 23 tahun, terbangun. Erni segera menghambur ke dapan pagar untuk
membukakan pintu. Aku berteriak mencegahnya, tapi Erni tidak perduli.
Dia terus berlari ke depan menuju pagar. Sesampainya di pagar, tiba-tiba
Erni terjatuh dan aku segera menolongnya.
Pada saat aku mengangkat
tubuh Erni, Erni sudah lemas lunglai dan sudah tidak bernyawa. Erni
tewas di tempat dan aku berteriak histeris. Suamiku dan anakku yang lain
datang membantu. Erni kami bawa ke dalam rumah dalam keadaan tidak
bernyawa.
Pada saat kami sedang menangisi jasad Erni, tiba-tiba
dari luar terdengar suara gerungan yang sangat keras. Gerungan itu mirip
suara bekantan besar, yang memecah kebisuan malam. Aku segera
meninggalkan jenazah dan melihat ke depan. Oh Tuhan, di sana terlihat
raksasa bertubuh warna hitam
Berwajah seperti bekantan. Dengan
taraing yang tajam, mahluk itu menyeringai ke arahku. Namun setelah aku
berteriak, mahluk itu hilang dalam hitungan detik. Menghilang ke hutan
sebelah rumah kami.
BANDAR BOLA PIALA EROPA 2016
Setelah Erni dimakamkan dengan sejuta duka
kami, seorang paranormal Pontianak menyalami dan turut berduka. Erni
anakku, katanya, menjadi tumbal raksasa gaib yang dinamakan Uwak Besoh
olehnya. Uwak Besoh itu sebangsa jin bertubuh besar yang beroperasi di
Kalimantan Barat dan memaksa manusia dan hewan piaraan.
Aku
mempercayai paranormal itu. Kombe Suanda, 56 tahun, nama dukun itu,
berjanji akan memusnahkan Uwak Besoh bila aku mau mendanai ritual yang
dilakukannya. Aku harus menyiapkan alat-alat ritual seperti apel jin,
madat Turki, kemenyan Arab dan minyak wangi Paris, Elizabeth Arden.
Selain itu, aku harus memebi santunan kepada 1000 anak yatim di Kalbar
dan 1000 orang jompo di Pontianak.
“Jika ritual ini tidak
dilakukan, Uwak Besoh akan mengambil tiga anak mu yang lain. Tumbal yang
dijanjikan kepadanya adalah empat nyawa. Kebetulan tumbal itu jatuh
kepada keluargamu,” kata Sang Dukun.
BANDAR BOLA PIALA EROPA 2016
Karena takut meminta nyawa
anakku yang lain, aku geregetan inginkan raksasa bekantan itu cepat
mati. Bahkan paranormal asal Pontianak itu, akan mempertunjukkan
detik-detik kematian raksasa tersebut. Untuk itulah, aku mengeluarkan
tabunganku sebesar 40 juta rupiah untuk Sang Dukun. Dia pula yang akan
memberikan santunan kepada yatim dan orang jompo di kota Pontianak.
Setelah berproses selama beberapa bulan, ritual gaib itu pun dilakukan.
Acara dibuat di tengah malam di rumah kami. Mahluk halus yang maujud
raksasa itu dipanggil dengan mantra-mantra serta umbu rambe yang dibuat
oleh Pak Dukun. Setelah satu jam membaca mantra dan bersila, tiba-tiba
angin puting beliung menyerbu dengan deras. Semua pohon terombang ambing
disapu angin. Bersamaan dengan itu, kilat dan petir menyambar tanah.
Untung kami tidak terkena energi alami itu. Bila terkena, matilah aku
dan keluarga besarku di rumah kami.
Beberapa saat kemudian,
berbarengan dengan kilat besar, Sang Raksasa Gaib pun maujud. Dia muncul
di pagar rumah kami. Mahluk itu membuka gigi taringnya dan siap
menyerang Kombe Suanda. Namun Kombe Suanda sudah menyiapkan keris
Digjaya Abadi, diarahkan kepada mahluk itu. Sang raksasa terjatuh dan
tubuhnya tertusuk pagar rumah kami yang tajam.
BANDAR BOLA PIALA EROPA 2016
Mahluk itu meregang
nyawa. Namun karena dia mahluk gaib, bangkainya tidak bisa tersenuh oleh
siapapun, kecuali Kombe Suanda. Setelah didekati oleh Kombe Suanda lalu
ditusuk dengan keris Digjaya Abadi miliknya, mahluk itu pun terbakar,
musnah tanpa meninggalkan sisa sedikitpun dip agar rumah kami. Api
membumbung tinggi dan dipadamkan dengan keris Kombe Suanda juga.
Setelah selesai dan aman, aku bertanya kepada Kombe Suanda. “Yang saya
tahu, tumbal anak itu dilakukan oleh seseorang yang melakukan pesugihan.
Sedangkan saya, sukses berkebun ini, bukan karena pesugihan, tapi
karena kerja keras ku memeras otak hingga meraih sukses. Kenapa mahluk
itu meminta tumbal empat anakku? Kenapa anak-anak kecintaanku yang
menjadi tumbal?” tanyaku, sungguh-sungguh kepada Kombe Suanda.
Sang
dukun lalu membisikkan sesuatu kata di telingaku. Dia meminta agar aku
tidak mempersoalkan lagi hal itu. Sebab semua sudah selesai dan kasus
tumbal pun otomatis telah luntur. Kata-katanya itu membuat tubuh ku
gemetar dan kulitku sertamerta menjadi dingin. Aku merinding mendengar
omongannya itu. Sebab yang menumbalkan empat anakku itu, diam-diam
adalah suamiku sendiri. Suami dan ayah anak-anakku yang bernama Amran
Husni. Kang Amran ternyata sangat jahat dan tega menumbalkan
anak-anaknya untuk kejayaan usahaku sebagai pengusaha perkebunan jeruk.
Kini aku telah bercerai dengan Amran Husni dan dia menikah lagi di
Serawak dengan gadis cantik asal Malaysia. Dia juga telah membeli 140
hektar tanah di Sambas dan berkebun bersama isterinya itu. Usahanya itu
maju pesat dan Kombe Suanda menyebut saat ini Amran Husni menumbalkan
istrinya yang cantik untuk mahluk gaib lain yang kelak akan membuatnya
kaya raya.
Alhamdulillah, walau sekarang aku terlepas dari
pesugihan diam-diam suami, usahaku tetap jalan lancar atas pertolongan
Tuhan Yang Maha Kasih. Usahaku tetap keras sambil mempasrahkan diriku,
diri anak-anakku ke pangkuan Allah SWT. (seperti dituturkan Hesty
Nurlita)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar